Kamis, 07 Juli 2016

Di Hari Idul Fitri, Ibuku Terbunuh..

Gambar dari sini

Derita ibuku telah paripurna. Saat Idul Fitri berlalu lalang, ia menahan denyut yang semakin lama semakin keras, berpacu bersanding dengan detak jantung. Tak ada denyar tawa di sekitarnya, hanya tersirap ngilu dan pilu di ujung sajadah, pada sujudnya yang tunduh.

            Ibuku telah merangkum banyak kisah dalam perjalanannya. Kisah tentangku yang sejak bercakap-cakap dalam kolam ketuban hingga kumaknai tangisnya yang sudah usai pada pagi yang terlalu dini.  


Gambar dari sini
              Ia hidup seorang diri menanggung rindu yang tak sempat disampaikan lewat pelukan. Ia telah terbuang pada ranumnya kalimat bermaaf-maafan. Terhempas di sudut ruang berukuran 3x3 meter tanpa sapa, tanpa dering telepon pintar.
    
       Dalam perjalananku yang berulang kali meninggalkannya, bukan maksudku untuk meninggalkannya. Namun, aturan yang tak bisa kubantah dari lelaki yang kupanggil “Bapak


”. Meski kutahu, kejahatan terbesar ketika memisahkan seorang anak dari Ibunya. Ia mengabariku,

                  “Baik-baik dan selalu berbahagia ya nak..”

            Aku sudah menutup hariku dengan suaranya yang merdu, biji matanya terlalu banyak mengandung cerita. Risaunya yang tak pernah berganti akan risauku.  Siapa yang menjaganya saat terluka, siapa yang memijat tengkuknya saat vertigo menyerang? Tak siapa..

            Idul Fitri, ibuku kembali terbunuh, kali ini lebih mengenaskan dari sebelumnya. Ia terbunuh dalam kesendiriannya, waktu yang pongah, manusia yang sombong telah membunuhnya, mengubur kasihnya hingga ia kerontang tanpa pinta dan harap.


Gambar dari sini

            Dan… Aku, hanya menatapnya dari jauh dalam diamku, dalam tanpa bantahku.


Jakarta, hari kedua Idul Fitri 2016
Aida, M. A

           


            

0 komentar:

Posting Komentar