Rabu, 10 Agustus 2016

Bersyukur atau Ngedumel?

foto dari sini



Berbagi kisah bahagia memang dianjurkan dalam ajaran Islam, lebih sebagai bentuk mensyukuri dari apa yang diperoleh. Namun, tidak banyak orang yang akan berbagi kisah kegagalannya (berbagi tidak sama dengan konotasi mengeluh), masa-masa kejatuhan yang sebenarnya jika ditelaah dari sisi manapun akan membawa kita pada titik lebih bersyukur, lebih mendalami makna hidup, lebih ingin belajar lagi.

Mungkin, karena kegagalan seringkali dianggap hal yang memalukan, dan kecendrungan otak manusia ingin selalu menjadi lebih dan lebih dari yang lainnya, sehingga isu kegagalan seseorang seringkali menjadi isu yang hangat untuk dikipas-kipaskan, itu terbukti pada siaran Infotaiment.

Suatu hari anak-anak, orang dewasa akan stress ketika menjelang ujian, entah ujian nasional, ujian skripsi dan lain-lain. Kenapa? Menurut saya bukan karena takut gagal, optimis itu WAJIB. Tapi, lebih karena kita tidak melakukan persiapan jika mengalami kegagalan, bagaimana jika tidak sesuai harapan? Apa yang harus dilakukan? Alhasil, kita akan cenderung stress berkali lipat ketika tidak siap dengan kondisi yang berbeda.

Seperti saya hari ini, dapat surat cinta dari Short Therm Australia Awards prihal Course for Leaders, Entrepreneurs, and Innovators for Technology in Australia. Ini keinginan saya belajar lagi dengan non budget, perkara masih gamang mengurusi dua usaha.

Akan ada dua hal yang terjadi ketika gagal. Pertama, sedikit kecewa, namun memasang tekad dan usaha untuk kalimat, “masih ada kesempatan” meski dianggap kalimat lebih tepatnya “Menghibur diri” namun kenyataannya Allah  menyukai manusia yang bersemangat. Kondisi ini jauh lebih baik, dibanding sudah gagal, lalu menggerutu, dan menuding pihak lain, kondisi menyedihkan tanpa mendapat catatan amalan.


Pilih yang mana? (heheheh)