Kamis, 08 September 2016

Doa Nabi Yusuf a. s

Gambar dari sini




Seringkali kita mengamalkan membaca surah Yusuf dan Maryam ketika mengandung si buah hati.  Berniat agar amalan membaca surah Yusuf dan Maryam, akan menghadirkan anak lelaki yang gagah dan tampan seperti Nabi Yusuf dan anak perempuan yang cantik salehah seperti Bunda Maryam.


Dari saat saya masih kecil hingga dewasa, yang seringa disebut tentang kisah  Nabi Yusuf adalah keelokan parasnya, beliau Rasul Allah yang paling tampan tiada duanya. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada sebum perjuangan yang demikian berat untuk menjadi seseorang yg tampan dan menawan. Mari kita buka bersama Surah Yusuf, bagaimana Allah menceritakan kepada Nabi Muhammad perjalanan Nabi Yusuf lengkap dalam Surah Yusuf.


Ujian Nabi Yusuf luar biasa peliknya. Sudan dimulai sejak beliau kecil hingga dewasa, perjalanan ujian ini kian berganti. Karena parasnya yang menawan dan kebaikannya ia kemudian dimusuhi oleh saudara-saudaranya, beliau dibuang ke dalam sumur, hingga dijual kepada bangsawan menjadi budak. Tak sampai di situ karena ketampanannya beliau digoda majikannya sendiri, Siti Zulaikha,  berakhir dipenjara pula.


Siapapun ingin anak setampan Nabi Yusuf, namun sepertinya bersegera menolak jika kisah hidup anak kita seperti Nabi Yusuf a.s. Rasul-rasul Allah yang diberi ujian yang berat selalu memiliki jiwa yang luar biasa. Nabi Yusuf yang dibuang dan diasingkan oleh saudaranya tidak pernah menaruh kebencian setelah beliau memaafkan saudaranya. dalam banyak kesempatan ketika beliau bercerita tentang perjalanan hidupnya, kisah dibuang ke sumur selalu beliau lewati sebagai bukti bahwa beliau sudah memaafkan, bukan mempertontonkan kesedihan di masalalu. Subhanallah..


Hari ini berkesempatan mentadabbur surah Yusuf, menemukan doa sebentuk cita-cita mulia dari Rasul Allah ketika berada dalam banyak ujian hidup.


"Wahai Tuhan, pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh" (Yusuf: 101).


Sebaik-baik meninggalkan dunia ini ketika dalam keadaan islam dan kembali berkumpul bersama-sama saudara muslim yang saleh.

"Make" or "Break" Brand Mario Teguh?





Mario Teguh trending topic di twitter pasca pengakuan seorang pemuda yang mengaku sebagai anak dari Mario Teguh. 

Kira-kira seperti itu sekilas berita yang saya baca di media online dan beberapa status teman di sosial media.

Saya tidak ingin membahas tentang kelumit masalah yang sedang dihadapi oleh Motivator kawakan ini, karena bicara masalah, dari kelas manapun kita akan berhadapan dengan masalah. Namun, saya lebih tertarik melihat sisi BRAND atau PERSONAL BRANDING Mario Teguh sebagai seorang Motivator.

Setahun lalu dalam sebuah diskusi bersama pakar Branding dengan pendekatan Ethnografi, Amalia E. Maulana, saya mendapatkan sebuah definisi tentang Personal Branding, bahwa Personal Branding bukanlah sebagai pencitraan, namun lebih dikhususkan lagi, adalah brand seseorang yang berbeda dengan yang lainnya, dengan sepaket janji dari Brand itu sendiri.

Sama halnya seperti yang pernah terjadi pada Aa Gym beberapa waktu lalu, brand beliau sebagai sosok pemimpin dengan tagline “Manajemen Qalbu” sempat membuat terluka para jamaahnya yang sebagian besar adalah kaum ibu, setelah keputusan Aa menikah untuk kedua kalinya.

Jika dalam sebuah produk, hal ini juga pernah terjadi pada brand sekelas Coca-cola yang sempat mengalami kemarahan publik, karena adanya penggantian formula pada Coca cola. Karena publik merasa memiliki brand Coca cola, untuk menangani protes dari publik, pengelola Coca cola kembali meluncurkan label Classic Coke.

Apa yang dialami Mario Teguh hari ini, juga sebuah ujian brand, entah kemudian ada reposition dari Brand itu sendiri atau tidak. Sebagai seorang motivator, setidaknya yang sudah dijanjikan dalam banyak performanya. Om Mario banyak menampilkan romantisme suami istri, bagaimana rumah tangga yang harmonis, ayah yang menyenangkan, nasihat-nasihat yang mendamaikan.

Brand Mario Teguh sedang diuji, di sinilah bisa dikatakan ia sebuah Mega Brand atau tidak, kuatkah Brandnya atau tidak. Namun perlu diingat sekalipun Mega brand, selalu akan ada pro dan kontra. Ini juga yang terjadi pada Brand Michael Jackson, hingga hari pemakamannya, fans yang melimpah ruah, di antara berita-berita yang kurang menyenangkan. Namun, tetap saja MJ penyanyi pop legendaris yang tak tergantikan.

Menurut Amalia, E Maulana, sebuah brand dikatakan kuat atau lemah, ketika sekelilingnya melakukan pembelaan, bisa dilihat dari para sahabat brand yang loyal, bahkan siap menulis segala kebaikan-kebaikan tentang brand demi menjaga brand. Dan satu hal lagi adalah pemenuhan dari paket janji dari brand itu sendiri.




So, make or break Brand Mario Teguh? 

   Bahan Bacaan
* Brandmate, Personal Branding, Amalia E. Maulana
* 100 Kisah Klasik Pemasaran.

Jakarta, 8 September 2016
Aida, M. A

Rabu, 07 September 2016

Guru Kehidupan

foto dari sini






Guru kehidupan, bukan hanya ditemui pada masjid-masjid, lewat orang-orang yang sudah melintasi banyak benua. Namun, sangat mungkin dijumpai pada pinggiran rumah, lewat celotehan anak-anak. Atau ditemui pada pundak-pundak yang tersungkur dalam takdir Allah.

Hari ini, basecamp Maslamah Foundation dikunjungi seorang guru kehidupan, want lembut-lewat paruh baya menyambangi kami dengan raut wajah yang risau, ia masih mengulum senyum, meski saya tahu, ada luka yang belum kering di sana, bahkan menganga demikian dalam.

Wanita yang pernah berada di puncak karir tertinggi, bankir dengan kemewahan melimpah, kini hanya berbalut pakaian hitam tanda kedukaannya.

Tak cukup kehilangan harta karena dijadikan tumbal keserakahan duniawi manusia, ia juga harus berpuluh kali melapangkan dada, meluaskan harap dan menjernihkan pikiran tatkala anak-anak dan suami ikut pula meninggalkannya. Sebatang kara hidupnya tanpa topangan pembalut jiwa. Punah sudah semua harap, hilang sudah semua damba. Pegangan satu-satunya pada Ilahi pemberi ujian ini, ucapnya pada tetes-tetes kehilangan yang terus mengalir di pipi.

Saya terenyuh, hati saya ngilu. Ingat ketika Ayahanda mengatakan, siapapun yang mengejar-ngejar harta, satu saat ia akan diambil kembali, siapapun yang berlomba-lomba pada pangkatnya, tak akan ada yang abadi. Pada puncak tertinggi posisi seseorang, ia akan turun, namun akankah perlahan atau terjun bebas? Yang pasti semuanya akan turun dengan baikkah atau sebaliknya. Namun, itu bukan sebuah ketakutan, bagi jiwa-jiwa yang berserah diri.

Allah mempertemukan ummat-Nya dengan banyak cara, hari ini guru kehidupan menemui saya, di antara senyum yang tertahan, tangis yang masih menyala, beliau katakan kepada saya,

“Mba Aida, saya mau bantu apapun untuk adik-adik yatim dhuafa di Rumba Maslamah Foundation, saya ikhlas membagi ilmu saya dengan sukarela”

Wanita yang sedang dirundung duka ini, bukan tak tahu jika nasibnya saat ini luntang lantung, berpindah dari kosan satu ke kosan harian yang lain, menjadi kuli laundry hingga cleaning service, namun masih berpikir untuk menjadi relawan dan siap membantu yatim dhuafa.

Saya menatapnya berulang kali, menggengam tangannya, wahai ibu yang berwajah syahdu, Allah sedang memelukmu, menyayangimu, dengan cara yang tak terduga.

Siang ini, ruang baca Maslamah Foundation, tiba-tiba senyap.

Maslamah Foundation
Jakarta, 7 September 2016
Aida, M.A

   

Kamis, 01 September 2016

Menikah, Untuk Bahagia dan Banyak Anak?






Pernikahan bukanlah sebuah ekspetasi, namun menjadi sebuah obsesi. Ekspetasi dengan menikah ada yg memasak, mencuci baju, dan memijat, sebuah ekspetasi keliru, karena jika demikian, menikahlah dengan tukang cuci, tukang masak sekaligus tukang pijat 😀

Menikah harus menjadi sebuah Obsesi, keinginan terbesar ketika menikah menjadi jauh lebih baik dalam amalan dan kebaikan.

Keluarga sakinah hanya terwujud ketika suami/istri menjadi lebih baik setelah terikat dalam ruh pernikahan.

Menikah juga bukan semata-mata menjadi bahagia dan mempunyai banyak anak. Bahagia bukan perwakilan dari keseluruhan yg dibutuhkan dalam hidup, apalah lagi memiliki banyak anak, karena tak melulu identik sebagai sumber kebaikan. Apalah diri ini dibandingkan Nabi Ya'kub as, memiliki 12 anak dan 10 anaknya hanya seorang pendurhaka. 

Menikah..Meminta keberkahan Allah, karena ikatan pernikahan bukan hanya dijalani di dunia namun membawa hingga ke akhirat kelak. Jika hanya menjadi pasangan yg serasi di dunia, Abu Lahab dan Hindun pun pasangan yg serasi di dunia sebagai musuh Allah.

Menikah, pada tali-tali keberkahan Allah, menjadi napas kehidupan. Bukan hanya dalam keluarga ini, namun menjadi napas kehidupan bagi lingkungan sekitar.