Rabu, 07 September 2016

Guru Kehidupan

foto dari sini






Guru kehidupan, bukan hanya ditemui pada masjid-masjid, lewat orang-orang yang sudah melintasi banyak benua. Namun, sangat mungkin dijumpai pada pinggiran rumah, lewat celotehan anak-anak. Atau ditemui pada pundak-pundak yang tersungkur dalam takdir Allah.

Hari ini, basecamp Maslamah Foundation dikunjungi seorang guru kehidupan, want lembut-lewat paruh baya menyambangi kami dengan raut wajah yang risau, ia masih mengulum senyum, meski saya tahu, ada luka yang belum kering di sana, bahkan menganga demikian dalam.

Wanita yang pernah berada di puncak karir tertinggi, bankir dengan kemewahan melimpah, kini hanya berbalut pakaian hitam tanda kedukaannya.

Tak cukup kehilangan harta karena dijadikan tumbal keserakahan duniawi manusia, ia juga harus berpuluh kali melapangkan dada, meluaskan harap dan menjernihkan pikiran tatkala anak-anak dan suami ikut pula meninggalkannya. Sebatang kara hidupnya tanpa topangan pembalut jiwa. Punah sudah semua harap, hilang sudah semua damba. Pegangan satu-satunya pada Ilahi pemberi ujian ini, ucapnya pada tetes-tetes kehilangan yang terus mengalir di pipi.

Saya terenyuh, hati saya ngilu. Ingat ketika Ayahanda mengatakan, siapapun yang mengejar-ngejar harta, satu saat ia akan diambil kembali, siapapun yang berlomba-lomba pada pangkatnya, tak akan ada yang abadi. Pada puncak tertinggi posisi seseorang, ia akan turun, namun akankah perlahan atau terjun bebas? Yang pasti semuanya akan turun dengan baikkah atau sebaliknya. Namun, itu bukan sebuah ketakutan, bagi jiwa-jiwa yang berserah diri.

Allah mempertemukan ummat-Nya dengan banyak cara, hari ini guru kehidupan menemui saya, di antara senyum yang tertahan, tangis yang masih menyala, beliau katakan kepada saya,

“Mba Aida, saya mau bantu apapun untuk adik-adik yatim dhuafa di Rumba Maslamah Foundation, saya ikhlas membagi ilmu saya dengan sukarela”

Wanita yang sedang dirundung duka ini, bukan tak tahu jika nasibnya saat ini luntang lantung, berpindah dari kosan satu ke kosan harian yang lain, menjadi kuli laundry hingga cleaning service, namun masih berpikir untuk menjadi relawan dan siap membantu yatim dhuafa.

Saya menatapnya berulang kali, menggengam tangannya, wahai ibu yang berwajah syahdu, Allah sedang memelukmu, menyayangimu, dengan cara yang tak terduga.

Siang ini, ruang baca Maslamah Foundation, tiba-tiba senyap.

Maslamah Foundation
Jakarta, 7 September 2016
Aida, M.A

   

0 komentar:

Posting Komentar