Kamis, 08 September 2016

"Make" or "Break" Brand Mario Teguh?





Mario Teguh trending topic di twitter pasca pengakuan seorang pemuda yang mengaku sebagai anak dari Mario Teguh. 

Kira-kira seperti itu sekilas berita yang saya baca di media online dan beberapa status teman di sosial media.

Saya tidak ingin membahas tentang kelumit masalah yang sedang dihadapi oleh Motivator kawakan ini, karena bicara masalah, dari kelas manapun kita akan berhadapan dengan masalah. Namun, saya lebih tertarik melihat sisi BRAND atau PERSONAL BRANDING Mario Teguh sebagai seorang Motivator.

Setahun lalu dalam sebuah diskusi bersama pakar Branding dengan pendekatan Ethnografi, Amalia E. Maulana, saya mendapatkan sebuah definisi tentang Personal Branding, bahwa Personal Branding bukanlah sebagai pencitraan, namun lebih dikhususkan lagi, adalah brand seseorang yang berbeda dengan yang lainnya, dengan sepaket janji dari Brand itu sendiri.

Sama halnya seperti yang pernah terjadi pada Aa Gym beberapa waktu lalu, brand beliau sebagai sosok pemimpin dengan tagline “Manajemen Qalbu” sempat membuat terluka para jamaahnya yang sebagian besar adalah kaum ibu, setelah keputusan Aa menikah untuk kedua kalinya.

Jika dalam sebuah produk, hal ini juga pernah terjadi pada brand sekelas Coca-cola yang sempat mengalami kemarahan publik, karena adanya penggantian formula pada Coca cola. Karena publik merasa memiliki brand Coca cola, untuk menangani protes dari publik, pengelola Coca cola kembali meluncurkan label Classic Coke.

Apa yang dialami Mario Teguh hari ini, juga sebuah ujian brand, entah kemudian ada reposition dari Brand itu sendiri atau tidak. Sebagai seorang motivator, setidaknya yang sudah dijanjikan dalam banyak performanya. Om Mario banyak menampilkan romantisme suami istri, bagaimana rumah tangga yang harmonis, ayah yang menyenangkan, nasihat-nasihat yang mendamaikan.

Brand Mario Teguh sedang diuji, di sinilah bisa dikatakan ia sebuah Mega Brand atau tidak, kuatkah Brandnya atau tidak. Namun perlu diingat sekalipun Mega brand, selalu akan ada pro dan kontra. Ini juga yang terjadi pada Brand Michael Jackson, hingga hari pemakamannya, fans yang melimpah ruah, di antara berita-berita yang kurang menyenangkan. Namun, tetap saja MJ penyanyi pop legendaris yang tak tergantikan.

Menurut Amalia, E Maulana, sebuah brand dikatakan kuat atau lemah, ketika sekelilingnya melakukan pembelaan, bisa dilihat dari para sahabat brand yang loyal, bahkan siap menulis segala kebaikan-kebaikan tentang brand demi menjaga brand. Dan satu hal lagi adalah pemenuhan dari paket janji dari brand itu sendiri.




So, make or break Brand Mario Teguh? 

   Bahan Bacaan
* Brandmate, Personal Branding, Amalia E. Maulana
* 100 Kisah Klasik Pemasaran.

Jakarta, 8 September 2016
Aida, M. A

0 komentar:

Posting Komentar