Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

4 Pesona Tempat Wisata Pantai Pok Tunggal di Yogyakarta

(foto: jogjakini.wordpress.com)

Hampir dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai macam tempat wisata di Yogyakarta kian bertambah banyak, sehingga menambah pilihan destinasi wisata selanjutnya di Yogjakarta.

Salah satunya adalah kehadiran pantai-pantai baru di daerah Selatan Yogyakarta tepatnya di daerah Gunung Kidul. Dari sekian banyak pantai-pantai di daerah Gunung Kidul, kira-kira mana yang layak untuk dikunjungi?
Pilihan pertama bisa kita lakukan dengan menyakisikan keindahan Pantai Pok Tunggal. Pantai Pok Tunggal sebenarnya baru dijadikan sebagai tempat wisata pada tahun 2012 yang lalu. Namun, pesonanya yang begitu cantik membuat pantai ini menjadi salah satu tujuan wisata yang selalu dicari wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta.
Untuk menikmati keindahannya tidaklah mudah. Setiap pengunjung yang akan datang ke Pantai Pok Tunggal harus melewati jalan berbatu yang cukup sulit dikendarai oleh mobil dan motor biasa. Jalur yang dilewati melalui sebuah perkampungan hingga…

JAUHI VIRUSNYA, BUKAN ORANGNYA

Kita tentu enggak bisa memilih ya terlahir dari keluarga yang mana. Dari ibu yang hebatkah atau ibu yang tukang bohong. Dari ayah yang seorang pahlawan kah atau dari ayah yang Bandar narkoba.
Begitu juga anak-anak yang terlahir dari keluarga (ayah dan ibu) yang mengidap virus HIV AIDS, mereka tidak bisa memilih terlahir dari ibu yang tidak tertularkah atau Ayah yang bersih dari virus yang mematikan itu.

SAYA BISA MENGHINDARI YANG HARAM, TAPI SAYA SULIT MENGHINDARI YANG SYUBHAT

Saat saya masih SMP, Mama pernah bercerita, Ayah mendapat promosi jabatan yang cukup baik saat itu, hanya saja beliau harus ditempatkan ke kabupaten yang lain. Sebenarnya promo jabatan yang ditawarkan cukup menggiurkan karena kondisi ekonomi keluarga saat itu sedang berat, saya tiga beradik saat itu semua bersekolah merantau dan butuh biaya besar.
Namun, ada jawaban Ayah yang sangat mengejutkan di usia remaja saya.
“Ayah enggak ambil jabatan itu nak, karena kondisinya terlalu beresiko. Hari ini sekuat tenaga, Ayah mampu menolak uang yang HARAM, tapi sulit sekali mengelak dari uang yang SYUBHAT, dan kamu perlu tahu nak, SYUBHAT pun lebih menjurus pada yang HARAM”.
Jawaban Ayah saat itu masih sangat membekas di memori saya, dan atas izin Allah, mungkin tidak akan hilang. Dan itu menjadi titik awal pendidikan karakter dari ayah untuk kami, mengenai keberkahan.
Hari ini saya bertemu bu Sri Hayuni, Wanita langka yang prinsipnya mirip dengan ayah saya. Bu Sri berselisih paham dengan banya…

BENARKAH IA SOULMATEMU?

Kedekatan ikatan seringkali membawa saya pada keinginan-keinginan di luar dari diri saya sendiri. Misalkan saja, saat menemukan adik yang sedang dimabuk kepayang karena cinta, mendorong saya untuk bertanya. 🎆🎆🎆

Dari angka 1 sampai dengan 10 berapa nilai cintamu untuk si doi? Seperti dugaan saya dia akan menjawab antara 8 dan 9. Sisa 1 mungkin lebih pada pilihan nasib atau takdir yang tak menyatukan. 🎆🎆🎆

Oh oke.. Kamu terlalu cinta sama si doi. Jika saja kalian berpisah. Apa kamu siap? Dia setengah berteriak memberi aba-aba pertanda ia tidak membayangkan sebuah perpisahan. 🎆🎆🎆

Kalau begitu apa yang kalian bicarakan? Sampai-sampai hatimu terpaut begitu dalam padanya? Bahkan membayangkan berpisah saja ogah? 🎆🎆🎆

Apa obrolanmu terselip tentang life plan hidupmu dan life plan hidupnya? Atau kalian berdua memiliki rencana akan cita-cita bersama membangun sebuah kebun bunga mawar, lalu membawa sebagian CSR nya untuk bantuan peduli pada anak-anak yatim terkena HIV AIDS? Atau jangan…

My Book of Many Colors- Annisa Taouil

Annisa Taouil bukan wanita biasa, terlahir sebagai pencampuran Arab Maroko–Spanyol. Karenanya ia memiliki dua kewarganegaraan (Maroko dan Spanyol). Wanita cerdas ini seorang Profesor di bidang Budaya, menguasai 4 Bahasa (Arab, Inggris, Spanyol, Prancis) kini bertambah satu lagi bahasa yang ia pelajari, “ya saya bangga berbahasa Indonesia, katanya.


Tiga tahun lalu saat saya dan Risma melakukan perjalanan kerjasama penulisan buku budaya ke Maroko, Prof. Annisa dengan keikhlasannya menjemput kami di stasiun Mohammediyah, menjadi driver berkeliling Cassablanca, menjamu menu khas Maroko, Chous-chous, Tadzin, Na’Na’ bermalam dengan Taksita (pakaian khas Maroko). Kini Prof. Annisa bertandang ke Jakarta, ia sudah menikmati kemacetan Jakarta, makanan khas Indonesia, bahkan sudah berkunjung ke beberapa kota lainnya. Setelah melewati berbagai hal itu, jawabannya Indonesia selalu di hati (Duh, Foreigner aja segini cintanya sama Indonesia, apa kabar kita ya?)



Profesor satu ini selalu humble, samb…