Kamis, 17 Agustus 2017

INDONESIA BUTUH CINTA LEBIH BANYAK







Tramway-Rabat-Morocco



Dalam perjalanan kurang lebih satu jam menuju Kenitra. Ada sebuah obrolan panjang saya dengan seorang lelaki Arab Darijah. Dia berprofesi sebagai consultant yang memungkinkannya untuk berada di beberapa Negara. Termasuk Indonesia, ia pernah menghabiskan 10 hari masa kerja di Indonesia, tepatnya Bandung dan Medan. Namun pendapatnya tentang Indonesia terlalu panjang untuk sebuah obrolan kami, dalam durasi 1 jam.

Berbeda sekali saat perkenalan yang berlanjut dengan obrolan bersama Robert, bule Amerika berusia senja yang saya temui di ruang tunggu Charless de gaulle-Perancis. Ia bercerita tentang cintanya pada budaya Indonesia, alam Indonesia, bahkan wanita-wanita Indonesia akunya, bagian akhir ini saya sedikit tertawa geli.

Namun antara kedua obrolan ini, tentu sangat berbeda. Bahasan bersama Louidy, lelaki berbahasa Arab Darijah ini menuai banyak kontemplasi dalam diri saya. Bagaimana tidak, ia mengkritik habis-habisan pemerintah dan regulasi pemerintahan Indonesia. Nasionalisme saya terketuk saat itu, saya tidak membantah sepenuhnya, tidak pula mengiyakan pendapatnya. Kata-katanya membuat saya tercenung agak lama.

Ternyata…
INDONESIA butuh cinta yang lebih banyak.
INDONESIA butuh dukungan yang lebih loyal
INDONESIA butuh kabar baik yang memajukan.
INDONESIA butuh persatuan sesama dan kasih sayang.




Ah, Indonesia.. Sudah 72 tahun saja.

SEMOGA KITA SEMAKIN CINTA SEMAKIN BERSATU.