Senin, 06 November 2017

SAYA BISA MENGHINDARI YANG HARAM, TAPI SAYA SULIT MENGHINDARI YANG SYUBHAT






Saat saya masih SMP, Mama pernah bercerita, Ayah mendapat promosi jabatan yang cukup baik saat itu, hanya saja beliau harus ditempatkan ke kabupaten yang lain. Sebenarnya promo jabatan yang ditawarkan cukup menggiurkan karena kondisi ekonomi keluarga saat itu sedang berat, saya tiga beradik saat itu semua bersekolah merantau dan butuh biaya besar.

Namun, ada jawaban Ayah yang sangat mengejutkan di usia remaja saya.

“Ayah enggak ambil jabatan itu nak, karena kondisinya terlalu beresiko. Hari ini sekuat tenaga, Ayah mampu menolak uang yang HARAM, tapi sulit sekali mengelak dari uang yang SYUBHAT, dan kamu perlu tahu nak, SYUBHAT pun lebih menjurus pada yang HARAM”.

Jawaban Ayah saat itu masih sangat membekas di memori saya, dan atas izin Allah, mungkin tidak akan hilang. Dan itu menjadi titik awal pendidikan karakter dari ayah untuk kami, mengenai keberkahan.

Hari ini saya bertemu bu Sri Hayuni, Wanita langka yang prinsipnya mirip dengan ayah saya. Bu Sri berselisih paham dengan banyak orang karena idealisme beliau untuk tidak mengambil satu sen pun uang hasil mark-up. Bahkan beliau berani keluar dari BI setelah 14 tahun masa pengabdiannya, karena berbeda prinsip dan tidak bisa menerjang sistem.




“Jika uang 1 juta rupiah pegawai bawahan harus diaudit dan diintrogasi lisan, mengapa untuk uang 1 Milyar, para pemegang jabatan tidak bisa diaudit dan dimintai pertanggungjawaban lisan? Mohon maaf, saya tidak bisa menandatangani apapun yang tidak sesuai fakta yang saya temukan. Saya enggak mau masa tua saya justru dipanggil KPK karena terjerat kasus ini dan itu”

Orang-orang seperti ayah saya, ibu Sri,  dan masih banyak mungkin orang-orang serupa mereka, sungguh manusia langka di zaman hedonis ini. Saya yakin mereka selalu menaruh TUHAN DIMANAPUN mereka berada.







0 komentar:

Posting Komentar