Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

SOSMED BIKIN BAHAGIAKAH?

Ingat beberapa waktu lalu saya menuliskan tentang “bahagia kok diukur dari jumlah like, share dan comment” Ternyata bahagia mendapatkan like, share, comment   postingan di sosial media ini ada hubungannya dengan perasaan senang yang diproduksi oleh hormone Dopamine, bukan hormone Endorfin ya. Jadi   ceritanya, ada seorang professor dari New York University bernama Adam Alter, melakukan penelitian dan mengungkapkan, ternyata saat seseorang mendapatkan like di sosial media, mereka memiliki perasaan senang dan kepuasan tersendiri. Anehnya ya.   Perasaan senang karena banyak jumlah like dan comment itu tadi, berasal dari hormon dopamine, yang juga diproduksi ketika seseorang mengonsumsi   obat-obatan terlarang,   minuman     yang beralkohol, menghisap rokok. Sumber dan produksi rasa senangnya itu sama. Jadi tahu kan kenapa kita jadi kayak kecanduan ya, buat bikin postingan semenarik mungkin dan terhits mungkin, karena senangnya tadi ternyata sama kayak sen

MUNGKINKAH 12 KAPAL MENGALAHKAN 330 KAPAL?

Sekitar sebulan lalu, saya mendapat pencerahan dalam beberapa hal dari Film Admiral: Roaring Currents, sebuah film sejarah Korea, yang mengangkat sosok Yu Shin Yi (Yi Shun Shin), seorang Laksamana Perang Laut Korea.  Saya bukan Drama Korea  Minded, Drama seri sering kali membuat jadwal kerja jadi terganggu (heheheh) saya hanya akan memilih beberapa film yang saya pikir bagus dan layak untuk direkomendasikan. Kalau di Aceh, ada Laksamana Keumalahayati yang sejarahnya begitu Heroik, di Korea ternyata ada Laksamana Yu Shun Shin, seorang pahlawan Korea yang hingga hari ini replika patungnya berdiri gagah di tengah kota Seoul. Seorang Admiral yang disegani oleh semua musuhnya, termasuk Jepang yang saat itu ingin menguasai Korea. Ada kalimat Yu Shun Shin yang fenomenal “Jika kau mengabaikan laut, maka kau mengabaikan Negara ini” Kalimat ini ia sampaikan saat Raja meminta Admiral Yu Shin meninggalkan laut dan bergabung dengan pasukan angkatan darat Korea. Kata-kata ini san

QUEEN BEE SYNDROME

Sharing di Universitas YARSI Kemaren saya sempat ngobrol banyak dengan seorang sahabat, perkara bantuan dana untuk usahanya di salah satu BUMN. Ini sudah pengajuan untuk kedua kalinya,   tersendat di tengah jalan, alasannya simple banget, terhalang hanya karena persaingan antara direktur yang notobene keduanya perempuan. Bukan sekali dua kali saya sering melihat kasus yang bisa disebut “Queen Bee Syndrome”. Mulai dari perseteruan perempuan mau lahiran cesar atau melahirkan normal, mau menyusui atau pakai susu formula, kita merasa bersaing berat dengan perempuan lain yang berada di lingkungan kerja dan profesi yang sama, segala sesuatu jadi kita nilai, mulai dari baju, rambut, pacar, banding-bandingin suami.   Banding-bandingan gaji dan gedean rumah siapa. Anak kurus diomongin, anak kegemukan dihebohin. Bahkan (maaf) kadang kita   kayak udah berada di luar kontrol karena keinginan untuk menjatuhkan yang lainnya. Queen Bee Syndrome ternyata bisa membuat seorang per

SAYA (ENGGAK) PUNYA PEKERJAAN

Seringkali orang seperti saya dianggap Jobless alias enggak punya pekerjaan.  Karena kegiatan saya katanya hanya santai-santai saja di depan laptop dan sesekali di HP. Untuk orang yang berorientasi bekerja harus punya kantor. Ya saya memang terkesan  jobless. Tak mengapa. Itu hak siapapun untuk menilai. Tapi jangan lupa para pekerja start up jadi milyarder dari HP dan Laptop. Saat saya sedang di laptop atau berhadapan dengan HP. Sebenarnya saat itulah saya bekerja. Jam kerjanya pun kadang lebih banyak dari orang yang punya kantor. Karena hari minggu pun saya masih punya jadwal interview tokoh yang sedang ditulis bukunya. Tak mengapa saya dianggap jobless, tidak punya kantor atau hanya terkesan berleha-leha di laptop. Tapi insya Allah saya masih bisa dikasih kesempatan untuk memberi kebaikan lewat tulisan-tulisan saya. Bonusnya saya mendapat royalti, fee writer. Bahkan teman-teman saya yang juga dianggap jobless bonusnya bisa lebih besar, dalam bentuk rumah

HADIAH DARI GADIS BERUMUR 10 TAHUN

Selain suka banget dengan nyanyi, teater dan belajar banyak bahasa. Sebenarnya si unyil (10tahun) ini suka banget berjualan. Awalnya cuma saya modali beli slime ukuran besar. Lalu dia bagi-bagi slime tadi ke beberapa botol yang lebih kecil. Beruntungnya di sekolahnya ada ground yang memboleh anak-anak belajar enterpreneur. Jadilah slime tadi balik modal dan dapat sedikit untung. Dia belajar di situ. Ternyata enak juga ya menghasilkan sesuatu dengan usaha sendiri. Kemaren saya berulang tahun. Dia ternyata sudah menyiapkan kado ultah tanpa sepengetahuan saya. Dengan bantuan neneknya. Dia belikan saya jilbab ini. Sambil malu-malu dia ngomong begini. "Bunda dipakai ya. Ini hasil jualanku. Enggak apa-apa ya baru bisa ngasih hadiah yang kecil begini" Duh..dada saya terasa hangat. Ternyata beberapa bulan terakhir ini. Dia buka usaha stationary kecil-kecilan di ground sekolah. Jualan penghapus kecil, notebook lucu-lucu. Keuntungannya ditabung dan mod

STOP BANDINGKAN DIRIMU DENGAN YANG LAIN

Mungkin kita ingat ya kapan terakhir kali ketemu teman SD, atau teman SMP. Kira-kira 5 tahun lalu, 10 tahun lalu bahkan lebih 15 tahun lalu. Tahu-tahu minggu kemaren, kita nemu instagramnya, facebooknya. Dalam hitungan menit kita langsung berubah takjub. “Lha, ini si anu yang dulu culun, jadi CEO perusahaan keren!” “Wah, si A udah sukses banget” “Wuih si B kerjanya di luar negeri” Jujur saja, kadang kita ngerasa dan mulai bertanya nih ke diri sendiri, atau jangan-jangan kita mendadak kepo.   “Kok bisa ya?” “Gimana caranya kok dia bisa tajir melintir begitu?” Saat teman-teman sekolahku dulu sudah keliling dunia, aku untuk ke Bandung aja kok susah bener. Saat teman-temanku sudah punya kendaraan yang keren, sementara akuuu cicilan motorku saja belum lunas. Aku udah bekerja mati-matian puluhan tahun, tapi dia yang baru dua tahun kerja kok udah dipromosikan. Temanku lulus masuk kampus terkeren di Indonesia, sementara aku ujian nasional aja ng