Selasa, 27 Maret 2018

David dan Joyce Gordon



Bersama Inspiration Couple, David and Joyce Gordon





Ada banyak tipe pasangan suami istri di dunia ini, role modelnya pun rupa-rupa. Namun suami istri yang bekerjasama dalam kerja amal dan kebaikan, suami istri yang mendedikasikan dirinya untuk mengedukasi bangsa (ummat) bisa dihitung dengan jari, sisanya mungkin lebih banyak belum selesai dengan diri mereka sendiri.

David Gordon dan Joyce Djaelani Gordon, sepasang suami istri yang lebih dari 20tahun mendedikasikan dirinya untuk mengedukasi keluarga, konselor sebaya dan para pecandu, agar generasi Indonesia tak bersegera punah. David pakar Adiksi dan Joyce pakar HIV/AIDS.

David sendiri berkewarganeraan Amerika lebih memilih menetap di Indonesia daripada kembali ke negaranya, alasannya terdengar simple, tapi sungguh mulia “Indonesia lebih butuh saya, di Amerika sudah banyak Lembaga-lembaga yang akan membantu pembentukan karakter dan pemulihan para pecandu”

David dan Joyce bukan pasangan biasa, mereka terkenal dengan program pendampingannya untuk para pecandu dan HIV AIDS di tingkat UNICEF PBB. David sendiri menjadi pendamping LAPAS-LAPAS di Amerika dan Joyce, salah satu dari 10 Aktivitis terdepan menangani HIV AIDS sejak tahun 80-an.

Dan sekarang, mereka berdua adalah guru saya, guru kehidupan selanjutnya. Karena urusan berbagi, peduli harus dari hati, bukan menunggu mapan, bukan menunggu layak dan bukan menunggu mampu. Karena jika semua serba menunggu sempurna, benarlah kita tak akan pernah selesai dengan diri sendiri.

Lalu, seperti apakah kita dengan pasangan kita?
Apa harus menunggu sudah keliling dunia kemana-mana baru ingin berbagi?
Atau hanya fokus pada anak sendiri, tanpa melihat kiri dan kanan? sementara tumbuh kembang anak bukan hanya di rumah, tapi bagaimana lingkungan dan pergaulan memberi pengaruh positif atau sebaliknya.

Bercermin yuk, saatnya melihat diri kita dan pasangan kita.
seperti pasangan apakah kita ini?

Senin, 26 Maret 2018

Pengakuan Anak Positif HIV AIDS


Kata Hati ADHA, ayahnya seorang pecandu narkoba.





Wajahnya cantik, subhanallah. Pertama kali melihatnya siapapun tidak akan menyangka bahwa ia positif HIV AIDS. Gadis malang ini tertular dari orangtuanya yang pemakai narkoba dengan jarum suntik.


Tulisan ini ia tulis, kira-kira sebulan lalu saat saya duduk dengannya bercerita banyak hal tentang perasaannya sebagai seorang ADHA. Malam ini saya baca kembali, hati saya pilu, dada ini terasa ngilu. 


Jika dulu, keluar dari rumah kita selalu dinasehati untuk menjaga nama baik keluarga, maka sekarang saatnya anak-anak kita yang mengatakan kepada ayah ibunya.

Ayah, Bunda, Mama, Papa, Abi, Ummi.
Tolong jangan jadikan kami generasi yang lemah, generasi yang menanggung malu dan aib karena ulah orangtuanya.


Jangan jadikan kami generasi yang mencontoh ulah brengsekmu sebagai karakter kami di masa depan.
Tidakkah kau berpikir, karena prilaku nafsumu, kami lah yang harus menanggung virus, menanggung bayangan kematian sewaktu-waktu. 


Tolong Ayah, Bunda, Mama, Papa, Abi, Ummi.
Jangan jadikan kami generasi yang lemah, bedebah, menanggung penyakit mematikan dan hilang tanpa menggapai cita-cita diri dan negeri ini.


*malam ini di luar hujan, waktu yang tepat merenungkan banyak hal.