Rabu, 25 Juli 2018

JIWA YANG MENYALA






Dua kali kematian di depan mata saya. Kali ini bukan kematian manusia. Namun kematian kucing di pusat kesehatan hewan. Namun dari kematian itu saya menemukan jiwa yang hidup. Jiwa pemilik hewan yang begitu kuat, hidup dan menyala.

Seorang wanita 30 an datang mengendarai motor sembari menggendong kucing kecil yang sudah sekarat. Katanya ditemukan di depan rumah, dalam kondisi sakit.

Tak jauh dari wanita tadi. Seorang bapak-bapak menggendong pula kucingnya yang sebesar bayi manusia. Napas kucing itu tinggal satu-satu. Sembari merapalkan kata-kata
"Jangan pergi dulu ya sayang... Jangan pergi dulu ya.." saya menemukan kilatan kaca di kedua bola mata lelaki itu. Ada kabut duka di sana. Sepertinya kucing jantan itu kena penyakit ginjal, karena kelebihan protein dan kurang konsumsi air.

Jauh dari hari ini. Di luar sana entah berapa jarak dari tempat saya berdiri. Jarang sekali saya temukan kepedulian seperti ini. Rela bergegas membawa kucing sekarat ke dokter meski bukan kucingnya? Rela mendoakan dan peduli pada hewan yang sakit. Dengan harapan mungkin ada balasan kebaikan dari setiap kebaikannya hari ini. Bukan hanya pada manusia saja tapi juga hewan sebagai ciptaan Tuhan yang lainnya.

Saya senang berada di sini. Di antara para jiwa yang terang. Terkadang mereka membawa makanan untuk kucing-kucing jalanan, membawa beberapa ekor ke dokter yang terkena scabies. Lalu merogoh kocek sendiri untuk kesehatan hewan-hewan itu.

Jawaban mereka hanya satu. Semua ciptaan Tuhan berhak hidup, semua ciptaan Tuhan harus saling peduli. Bukan hanya sesama kita, namun juga hewan dan tanaman. Lalu atas dasar apa kita berani menganiaya hewan di jalan, memukul kucing yang meminta sedikit makan? Saat itu dilakukan, percayalah kita telah kehilangan kebaikan hati dan jiwa emas yang menyala.

Senin, 23 Juli 2018

IBADAH TERLAMA









Satu kali saya bertanya-tanya. Apa ibadah terlama di dunia ini? Shalat kah? Zakat kah? Puasa kah? Haji kah?

Namun jawabannya tidak tertuju pada satupun kewajiban di atas. Saya justru mengulik pada hakikat keberadaan diri ini di dunia, dalam perkara tugas ibadah.
 
Jika demikian, bisa jadi pernikahan adalah ibadah terlama yang harus dilalui. Sebuah priode pengorbanan terlama yang harus dijalani.

Jika butuh waktu selama itu. Bukankah seharusnya kita berada pada kondisi menjauhkannya dari keluh kesah yang berkepanjangan, menjauhkannya dari timbunan-timbunan kekacauan dan kebodohan, menjauhkannya dari akhlak-akhlak yang memalukan. Maka Suami melakukan afirmasi bahwa kepergiannya keluar rumah sebagai tugas sebagai imam dari keluarga, tempat ia pulang meluruhkan rindu. Dan istri menjaga rindu agar terus menggebu.

Jika tidak dijauhkan dari hal umpatan, keluh kesah dan kebodohan-kebodohan, duh begitu disayangkan ibadah dan pengorbanan terlama ini, hanya akan membawa diri dan pasangan kita pada kerugian yang teramat dalam.

Minggu, 22 Juli 2018

TERUNTUK LELAKI TERBAIK DI MUKA BUMI




Tulisan ini terinspirasi dari cerita divorce seorang sahabat di INKLUSI. Dia dulunya penuh talenta. Banyak keahliannya, namun seakan bumi berhenti berputar saat ia memutuskan menikah. Satu demi satu kegiatan ditinggalkan, hidupnya hanya seputar rumah petakan dan sekolah anak.


TIDAK. Saya tidak mengatakan Perempuan harus bekerja di luar rumah. Karena posisi saya sendiri bekerja di dalam rumah. Saya lebih menyetujui bukan pada kalimat "Bekerja tapi Berkarya"
Banyak sahabat-sahabat saya yang cerdas, selalu juara di sekolah dulu, kemudian mereka redup kabarnya setelah semua potensi yang ia miliki kurang mendapat dukungan dari pasangan.


Mengapa judulnya TERUNTUK LELAKI TERBAIK DI MUKA BUMI. Karena ketika seorang perempuan telah memilihmu menjadi Imamnya, maka kamulah terbaik di muka bumi yang paling layak mendampinginya.


Lalu, adakah salahnya. Jika sedikit kau beri dukungan untuk cita-citanya, jangan tenggelamkan potensi dirinya. Istrimu butuh meraup ilmu, butuh membaca buku, butuh didukung dan dihargai untuk setiap prestasi diri dan kelebihan yang ia militie.


Jangan redupkan potensi istrimu.
Ia butuh kuat.
Ia butuh keahlian.


Apa bisa kau bayangkan, bagaimana LEMAH-nya ia saat terpisah maut denganmu. Tanpa keahlian apapun, tanpa persiapan apapun, tanpa tahu cara bagaimana menguatkan hati sekaligus menguatkan anak-anakmu yang bersamanya.


TERUNTUK LELAKI TERBAIK DI MUKA BUMI.
Credit song.
SEMATA KAMU
Vocal. HendricoZricko & Mia
Lirik. Risma el jundi & HendricoZricko
Arr. HendricoZricko.
Credit video. WAG.


BELAJAR KEIKHLASAN

Nazira, when in Aceh





Judulnya berat euyy..

Benar, judulnya subhanallah super berat. Tapi bukan berarti tidak mungkin.
Dua bulan terakhir ini saya bolak balik Jakarta-Aceh. Karena kondisi Mama yang sedang sakit, Diabetes menggerogoti tubuh sehatnya.

Mama selalu berdua dengan Ayah. Hampir kemanapun dua sejoli ini selalu bersama. Termasuk saat sakit kemaren, Ayah lah yang berulang kali katakan pada Mama.

"Jangan keluhkan sakitmu pada anak-anak. IKHLAS jalani ini. Selagi aku sehat, aku yang akan menjagamu. Anak-anak sejak kecil sudah kita ajarkan untuk merantau meninggalkan rumah, agar mereka mandiri tapi bukan lupa akan rumah, bukan lupa pada kita. Anak-anak juga sudah sangat repot dengan cucu-cucu kita. Kasihan jika kita repotkan lagi dengan penyakit ini. Ikhlaskan saja kita jalani ini bersama. Insya Allah kesembuhan dari Allah"

Terenyuh ya dengar kata-kata begitu. Akhirnya kami 4 bersaudara bergantian menemani Ayah dan Mama di Aceh. Meskipun kakak pertama saya yang paling sering kebagian jatah menjaga, karena jarak rumahnya sekitar 4 jam menuju rumah Mama.

Ada point yang paling sakral dan penuh makna saya temukan dari kata-kata Ayah ke Mama.
KEIKHLASAN.

Ayah dan Mama sadar bahwa anak-anaknya titipan Allah. Anak-anaknya satu saat akan meninggalkan rumah. Yang perempuan akan ikut suaminya dan laki-laki akan membangun rumah tangganya selaku imam keluarga.

Keduanya berlatih ditinggalkan anak-anaknya. Karena sejak tamat SD kakak pertama saya sudah merantau (karena dia masuk Sekolah Tahfidz) menyusul saya, dan dua adik di bawah saya. Sekarang kakak saya di Aceh Barat, adik saya di Batam dan saya di Jakarta. Bahkan saya pernah 5 tahun tidak mudik lebaran karena tahun-tahun itu kondisi ekonomi yang supit.

Tapi Ayah dan Mama tetap ikhlas menerima bahwa lebaran tanpa mudiknya sebagian anak, bahwa hari-hari mereka sangat jarang mendengar celotehan cucu.

Keikhlasan di dada Ayah dan rindu di dada Mama. Saya belajar dari keduanya, saat umur kian senja, cucu semakin bertambah.

Moment tak selalu bernada sama, anak-anak tetap akan selalu rindu rumah, dan segala kenangan tentang Ayah dan Ibunya. Tinggal kita menerima perubahan moment atau membiarkannya bergulir dengan gerutu.

Teruntuk siapapun yang sedang merasa sendiri di hari lebaran. Jauh dari sanak keluarga, jauh dari anak-anak dan cucu, jauh dari pasangan jia.

Mungkin kita perlu belajar melewati moment tidak nyaman ini. Percayalah ini hanya sementara, tidak ada kesedihan yang berkepanjangan, selain seonggok hati di dada ini berlatih penerimaan.

Happy Eid Mubarak.
With love
Aida Maslamah Ahmad.