Selasa, 28 Agustus 2018

HADIAH DARI GADIS BERUMUR 10 TAHUN






Selain suka banget dengan nyanyi, teater dan belajar banyak bahasa. Sebenarnya si unyil (10tahun) ini suka banget berjualan.


Awalnya cuma saya modali beli slime ukuran besar. Lalu dia bagi-bagi slime tadi ke beberapa botol yang lebih kecil. Beruntungnya di sekolahnya ada ground yang memboleh anak-anak belajar enterpreneur. Jadilah slime tadi balik modal dan dapat sedikit untung. Dia belajar di situ. Ternyata enak juga ya menghasilkan sesuatu dengan usaha sendiri.


Kemaren saya berulang tahun. Dia ternyata sudah menyiapkan kado ultah tanpa sepengetahuan saya. Dengan bantuan neneknya. Dia belikan saya jilbab ini.
Sambil malu-malu dia ngomong begini.


"Bunda dipakai ya. Ini hasil jualanku. Enggak apa-apa ya baru bisa ngasih hadiah yang kecil begini"
Duh..dada saya terasa hangat. Ternyata beberapa bulan terakhir ini. Dia buka usaha stationary kecil-kecilan di ground sekolah. Jualan penghapus kecil, notebook lucu-lucu. Keuntungannya ditabung dan modal diputar lagi.


Ah my girl..meski baru 10tahun. Cita-citanya besar sekali. Salah satunya membahagiakan ibunya yang tidak sempurna ini.

Selasa, 21 Agustus 2018

STOP BANDINGKAN DIRIMU DENGAN YANG LAIN





Mungkin kita ingat ya kapan terakhir kali ketemu teman SD, atau teman SMP. Kira-kira 5 tahun lalu, 10 tahun lalu bahkan lebih 15 tahun lalu.

Tahu-tahu minggu kemaren, kita nemu instagramnya, facebooknya. Dalam hitungan menit kita langsung berubah takjub.

“Lha, ini si anu yang dulu culun, jadi CEO perusahaan keren!”
“Wah, si A udah sukses banget”
“Wuih si B kerjanya di luar negeri”

Jujur saja, kadang kita ngerasa dan mulai bertanya nih ke diri sendiri, atau jangan-jangan kita mendadak kepo.

 “Kok bisa ya?”
“Gimana caranya kok dia bisa tajir melintir begitu?”

Saat teman-teman sekolahku dulu sudah keliling dunia, aku untuk ke Bandung aja kok susah bener.

Saat teman-temanku sudah punya kendaraan yang keren, sementara akuuu cicilan motorku saja belum lunas.

Aku udah bekerja mati-matian puluhan tahun, tapi dia yang baru dua tahun kerja kok udah dipromosikan.

Temanku lulus masuk kampus terkeren di Indonesia, sementara aku ujian nasional aja ngadat.

Tiba-tiba kita menjadi iri, kita jadi semena-mena dengan diri sendiri, bisa-bisanya kita bandingkan diri ini dengan teman-teman di luar sana.

Enggak ada seorangpun yang bisa menentukan waktu kesuksesan seseorang selain pemilik waktu dan zona waktunya sendiri. Yang hanya bisa dilakukan pada tataran usaha yang sama dengan apa yang lain lakukan, hasilnya berserah diri saja pada pemilik waktu, karena siapa pula kita yang berani memaksa hasil kesuksesan sebelum Tuhan katakan “iya ini waktumu”

Saya akhirnya memahami banyak keluhan teman-teman, saat iri melihat social media teman yang lainnya, karena kita belum tiba pada pemahaman zona waktu.

Kita semua pejuang, dan berjuang pada jalan kita sendiri, jika saatnya kita menuai hasil, itu bukan untuk membandingkan diri ini dengan yang lain, namun BANDINGKAN DIRI KITA YANG LEBIH BAIK HARI INI DIBANDING DIRI KITA SEBELUMNYA.

Selamat Idul Adha, qurbankan waktu, pikiran dan usaha untuk kebaikan. Dan ikhlaskan Allah saja yang menentukan saat terbaik untuk masing-masing kita.



Selasa, 14 Agustus 2018

BAHAGIA KOK DIUKUR DARI JUMLAH LIKE, COMMENT DAN SHARE?








Hari ini kita sudah menyiapkan foto terbaik, dengan make up terbaik, pakaian terbaik, bahkan kita sengaja ke tempat yang ter hits, hanya untuk memperoleh foto terkeren, dengan senyum terbaik, untuk kemudian dibagi di sosial media.

Namun, apa yang terjadi. Setelah menyiapkan foto terkeren tadi, bahkan dengan capture yang aduhai, ternyata miskin jumlah like, comment bahkan tidak ada yang share.

Lantas kita kecewa. Ah, kok dia enggak like ya, kok doi enggak komen ya, kok si anu enggak share ya. Hari itu kita kecewa, ternyata foto yang sudah dipersiapkan sedemikian rupa, wajah yang sudah dimake up agar tampak cantik, senyum dengan gigi berbaris indah ternyata kurang peminat komennya.

Kita merasa kecewa.
Kita merasa tidak bahagia.

Ada apa gerangan? Mengapa kebahagiaan diri diukur dari jumlah like, comment dan share. Mengapa ini menjadi begitu penting buat kita? Padahal kenyataannya jumlah like, comment dan share hanya sebentuk kebahagiaan yang semu.

Sesekali mari kita berjalan ke rumah singgah, rumah yatim yang papa. Mungkin di sana kita bakal temukan sebuah senyuman yang tulus, senyuman anak-anak yang tanpa orangtua lagi.
Senyuman yang enggak butuh jumlah like, comment. Senyum yang begitu pertama kali kita lihat langsung menularkan kebahagiaan.

Mungkin ada yang salah dengan sudut pandang bahagia di mata kita. Jika bahagia diukur dari jumlah like, comment dan share. Maka apa yang kita hadirkan dari sebuah foto juga sebuah kesemuan.

Foto yang kita pajang agar tampak keren, agar tampak gagah, agar tampak kaya.

Senyuman yang kita hadirkan karena ada apanya bukan karena apa adanya.

Senyuman yang kita hadirkan agar tampak bahagia, bukan sebenar bahagia.

Senyuman yang kita buat-buat bukan senyum yang natural dan tulus.

Ternyata ada yang salah.

Bahagia yang didasarkan atas banyaknya jumlah like, comment atau share, hanya akan menemukan kekecewaan dan kebahagiaan semu yang sesaat.

Tapi...
BAHAGIA diri ini seharusnya dipupuk dari banyaknya RASA SYUKUR sehingga menjalar dalam semua sisi kehidupan.