Selasa, 25 September 2018

QUEEN BEE SYNDROME

Sharing di Universitas YARSI



Kemaren saya sempat ngobrol banyak dengan seorang sahabat, perkara bantuan dana untuk usahanya di salah satu BUMN. Ini sudah pengajuan untuk kedua kalinya,  tersendat di tengah jalan, alasannya simple banget, terhalang hanya karena persaingan antara direktur yang notobene keduanya perempuan.

Bukan sekali dua kali saya sering melihat kasus yang bisa disebut “Queen Bee Syndrome”.

Mulai dari perseteruan perempuan mau lahiran cesar atau melahirkan normal, mau menyusui atau pakai susu formula, kita merasa bersaing berat dengan perempuan lain yang berada di lingkungan kerja dan profesi yang sama, segala sesuatu jadi kita nilai, mulai dari baju, rambut, pacar, banding-bandingin suami.  Banding-bandingan gaji dan gedean rumah siapa. Anak kurus diomongin, anak kegemukan dihebohin. Bahkan (maaf) kadang kita  kayak udah berada di luar kontrol karena keinginan untuk menjatuhkan yang lainnya.

Queen Bee Syndrome ternyata bisa membuat seorang perempuan lebih kejam kepada perempuan lain dibanding laki-laki. Mulailah muncul gosip-gosip bahkan bisa jatuhnya ke fitnah, muncullah komen-komen yang bernada kebencian, kita enggak akan pernah puas kalau belum bongkar semua keburukan perempuan lain yang menurut kita menjadi competitor.

Pernah merasa begitu? Bisa jadi kita terkena syndrome satu ini. Padahal, kita butuh punya solidaritas sesama perempuan , menghargai perempuan yang lain, menghormati keputusannya dan memberi tepuk tangan untuk keberhasilannya.

Sulit?

Saya akhirnya menyadari, sifat iri-irian begini, penyakitnya gadis-gadis kecil saat kanak-kanak dulu. Lalu, saat sudah dewasa, jika kita masih punya penyakit satu ini, apa mungkin kita belum tuntas dengan perkembangan emosional satu ini?

Girls compete with each other
And women empower one another
We fix each’s other crown


Rabu, 05 September 2018

SAYA (ENGGAK) PUNYA PEKERJAAN







Seringkali orang seperti saya dianggap Jobless alias enggak punya pekerjaan. 

Karena kegiatan saya katanya hanya santai-santai saja di depan laptop dan sesekali di HP.
Untuk orang yang berorientasi bekerja harus punya kantor. Ya saya memang terkesan  jobless. Tak mengapa. Itu hak siapapun untuk menilai. Tapi jangan lupa para pekerja start up jadi milyarder dari HP dan Laptop.

Saat saya sedang di laptop atau berhadapan dengan HP. Sebenarnya saat itulah saya bekerja. Jam kerjanya pun kadang lebih banyak dari orang yang punya kantor. Karena hari minggu pun saya masih punya jadwal interview tokoh yang sedang ditulis bukunya.

Tak mengapa saya dianggap jobless, tidak punya kantor atau hanya terkesan berleha-leha di laptop. Tapi insya Allah saya masih bisa dikasih kesempatan untuk memberi kebaikan lewat tulisan-tulisan saya. Bonusnya saya mendapat royalti, fee writer. Bahkan teman-teman saya yang juga dianggap jobless bonusnya bisa lebih besar, dalam bentuk rumah atau naik haji (heheheheh alhamdulillah)

Jadi. Saya jobless?