Senin, 03 Desember 2018

SOSMED BIKIN BAHAGIAKAH?



Ingat beberapa waktu lalu saya menuliskan tentang “bahagia kok diukur dari jumlah like, share dan comment”

Ternyata bahagia mendapatkan like, share, comment  postingan di sosial media ini ada hubungannya dengan perasaan senang yang diproduksi oleh hormone Dopamine, bukan hormone Endorfin ya. Jadi  ceritanya, ada seorang professor dari New York University bernama Adam Alter, melakukan penelitian dan mengungkapkan, ternyata saat seseorang mendapatkan like di sosial media, mereka memiliki perasaan senang dan kepuasan tersendiri.

Anehnya ya.  Perasaan senang karena banyak jumlah like dan comment itu tadi, berasal dari hormon dopamine, yang juga diproduksi ketika seseorang mengonsumsi  obat-obatan terlarang,  minuman   yang beralkohol, menghisap rokok. Sumber dan produksi rasa senangnya itu sama.

Jadi tahu kan kenapa kita jadi kayak kecanduan ya, buat bikin postingan semenarik mungkin dan terhits mungkin, karena senangnya tadi ternyata sama kayak senang dengan mengonsumsi zat-zat psikotropica tadi.

Padahal ya, yang kita tampilkan di sosial media itu belum tentu seperti itu adanya, yang kita lakukan sebenarnya adalah bagaimana supaya foto ini mendapat lirikan banyak orang. Yang wanita mungkin akan memilih foto profile terbaik agar terlihat cantik, yang laki-laki akan memilih foto profile tergagah agar terlihat karismatik. Omongan ini ada dasarnya loh, karena pernah dilakukannya sebuah survei produsen HTC di Inggris , dan dari survey tadi ditemukanlah fakta bahwa sekitar 2/3 dari       -  Orang-orang di media sosial membuat foto profil mereka tampak lebih menarik agar dilirik orang (So what gitu loh, sah-sah aja kan?) ya yang melelahkan bukan di situ, tapi apa enggak lelah demi memenuhi kebutuhan netizen?
Nah, kalau diingat-ingat lagi, apa ya yang paling sering kita tampilkan di sosial media? Pencapaian diri, kecantikan wajah, jalan-jalan keluar negeri, liburan keluarga dan semuanya serasa sangat sempurna. Keadaan ini biasanya diawali karena kita merasa iri dengan oranglain. Teman lama baru liburan dengan keluarganya di New Zealand, kita pun ikut posting jalan-jalan ke Hongkong.  Perasaan iri ini pernah loh dilakukan survey di University of British Columbia, survey dilakukan kepada lebih dari 1.100 pengguna Facebook, dan hasilnya ternyata semua pengguna FB memiliki reaksi berpotensi iri hati.
Dalam buku saya selanjutnya, ada tips yang saya sampaikan lewat tokoh yang saya tulis, gimana pentingnya sekali-kali kita detoks sosial media, karena ternyata lewat sosmed, kita enggak bahagia-bahagia amat kok, kudu cerdas pastinya, atau sesekali off kan notifikasi sosmed, mana tahu kerjaan tempo hari bisa kelar dalam dua hari karena kita puasa sosmed, mana tahu uang tabungan buat investasi bisa bertambah karena kita enggak tergiur untuk sebentar-sebentar jalan-jalan kayak selebgram (ya enggak? Selebgram mah dibayar, kita rogoh kocek sendiri deh heheheh).
Oke, ada yang siap tantangan puasa sosmed satu minggu, saya sudah pernah tuh hehehhee, dan detoks sosmed itu ternyata membahagiakan loh.








2 komentar:

  1. Saya juga udah pernah puasa dari sosmed kurang lebih 2 bulan, itu pun karna hp rusak, hahaha.. memang rasanya beda sekali sih mbak. Jadi lebih sehat aja gitu.

    Mampir balik ya mbak, hihi...
    www.kyndaerim.com

    BalasHapus