Jumat, 17 April 2020

MEDINA, I'AM IN LOVE #2



Hari itu saya berangkat dengan kondisi kantong yang subhanallah sedang diuji. Namun entah mengapa semaki dekat hari keberangkatan semakin kuat keyakinan saya, ayoo berserah saja pada Allah, kira-kira seperti itu kalimat yang terus memenuhi kepala hati dan semua indera saya. dan benar, keyakinan itu berdasarkan proses perjalanan untuk keberangkatan ini sendiri, tak sanggup logika saya mencerna, jika ini panggilan-Nya maka ia akan menjaga saya dengan cara dan kasih sayang-Nya.

Saya berangkat seorang diri tanpa sanak keluarga, karena memang biaya keberangkatan ini hanya cukupuntuk saya seorang saja. Saking minimalisnya, saya hanya mampu membayar untuk tiket keberangkatan dengan type Quad, artinya saya akan bersama empat orang jamaah dalam satu kamar. Namun Qadarullah saya ditempatkan hanya berdua dengan seorang nenek-nenek usia 60 tahunan yang Masya Allah sama sekali tidak rewel, mengenai nenek satu ini akan saya ceritakan pada bagian yang lain ya.

Saya berangkat diantar suami, yang terpaksa bolos dari tempat shooting demi mengantarkan saya. Saya tahu, hari keberangkatan saya adalah hari yang paling menyedihkan buat dia, karena cita-cita menuju ke tanah suci adalah cita-cita kami berdua, sementara karena keadaan, dan dia yang belum daftar haji gagal berangkat.

Kami punya keyakinan, bahwa Haji yang wajib, maka harus didahulukan, jika sudah mendaftar haji dan mendapatkan porsi, meski belum ada jadwal berangkat, sudah mendapatkan porsi artinya sudah terdaftar sebagai jamaah haji. masalah tanggal keberangkatan semoga Allah saja yang mengatur dengan sebaik-baik rencana-Nya.

Maka berangkatlah saya dengan linangan airmata di sore itu. Namun entah mengapa hati saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa, karena Allah memanggil saya untuk diperjalankan menuju Bait-Nya dan menuju makam kekasih-Nya.

***

Pasport saya sudah lengkap dengan visa Arab Saudi. Kami menggunakan pesawat Emirates, airbus yang besar itulah yang mengantarkan saya menuju Baitullah. sesaat di ruang tunggu sebelum boarding saya duduk bersama seorang nenek-nenek yang meminta saya menemaninya selama di tanah suci nanti, namun sayang, kami berbeda bis dan berbeda kamar, ini membuat saya kesulitan pastinya, lagi pula saya dipasangkan satu kamar dengan nenek yang kemudian saya memanggil beliau dengan Mimih, karena saya sebaya dengan anaknya yang paling bontot.

Entah mengapa, bahagia saja mendapatkan kepercayaan untuk membantu dan menemani para nenek-nenek ini, padahal kami semuanya baru pertama kali bertemu di kloter jamaah Umroh ini.

Pesawat memperjalankan kami hingga ke Dubai. Saat transit, Mimih yang bersama saya terpaksa diperiksa petugas bandara, karena ia membawa lakban dalam kopernya, karena beliau tidak bisa berbahasa inggris, saya harus menemaninya saat petugas membongkar koper. Sejak itu Mimih terus mengekori saya kemanapun, hingga ke toilet pun ia meminta "Tolong tunggu Mimih Neng.." katanya, dan saya turuti saja.

Melihat Mimih mengingatkan saya pada Mama, beliau juga sebaya Mimih, namun sekarang Mama sudah sakit-sakitan, dan harus banyak istirahat karena Diabetes yang beliau derita. Harusnya saya bisa berangkat Umroh bersama Mama dan Ayah, namun entah mengapa saya memutuskan untuk berangkat duluan, karena ingin mendoakan Mama dan Ayah supaya sehat dan bisa berangkat dengan waktu yang tepat.

Pesawat kami landing di Bandara Madinah. Saat itu pandemi COVID-19 mulai mencuat, termasuk sangat ketat pemeriksaan di Imigrasi Madinah, saat kami melewati jalur pemeriksaan, beberapa teman satu jamaah yang beberapa waktu lalu sempat ke China juga harus melewati proses introgasi panjang, karena memiliki visa ke China.

Namun, Alhamdulillah semua bisa berjalan lancar, saya yakin ini semata-mata karena kami tamu Allah, tamunya Rasulullah, membawa hati dan pikiran yang begitu rindu pada Rasulullah dan hendak bersujud di Bait Allah.

Kaki saya tiba di Madinah, saat itu masih musim dingin, rasanya menggigit sekali. Masya Allah, saya menahan tangis, sambil terus berkata, Rasulullah.. Ummatmu tiba di sini, memenuhi rindu yang teramat sangat, ummatmu yang tak tahu diri, ummatmu yang lupa akan ajaranmu, ummatmu yang datang untuk mengharap syafaatmu. Pada kalimat terakhir, saya menangis. saya tahu pada detik ini saya memang teramat rindu untuk menemui beliau.

*Bersambung

Episode. RAUDHAH, TAMAN MAKAM RASULULLAH.




Minggu, 22 Maret 2020

TIPS ANTI BAPER ALA AIDA MA


Sumber Google




Banyak orang di era digital ini, mudah terbawa perasaan alias baperan, dikomen sedikit pedas kita jadi patah hati, dimusuhi oleh kompetitor membuat kita panas dan sebagainya.





Sumber Google

Sepanjang perjalanan hidup, saya menemukan banyak sekali formula. Mulai dari menghadapi masa tumbuh kembang anak,  berbeda pendapat dengan pasangan, teman yang baperan, customer yang cerewet, klien yang sok sibuk, keluarga jauh yang suka merongrong, hingga lingkungan sosial media yang kerap kali di luar ekspetasi kita.

Bagi saya, siapapun yang masuk ke dalam hidup kita harus dibagi pada bilik-biliknya. Tidak semuanya akan berada dalam skala prioritas, sama halnya dengan pekerjaan, hobbi hingga kumpul-kumpul yang katanya "silaturrahmi" tidak semuanya bisa saya masukkan ke dalam prioritas, karena waktu dan kesempatan saya sangat terbatas.

Setidaknya saya membagi orang-orang dalam hidup saya menjadi 3 (tiga) bagian.

A1.
Bagi saya orang-orang berada di lingkaran A1 adalah orang-orang yang menjadi titik utama dalam hidup seseorang, orangtua yang sudah melahirkan, membesarkan, menyekolahkan dan mendoakan hingga kita anak-anaknya menjadi seperti hari ini. Merekalah orang-orang yang menjadi prioritas utama, termasuk mendengarkan dan menuruti kata-katanya, nasihat-nasihat, diskusi-diskusi ide dan pendapat. Meski memang tidak semua orangtua bisa diajak berdiskusi, memberikan pendapat dan sejenisnya, namun tetap saja karena ayah dan ibu lah kita lahir dan mendapat  berkah dari pemilik hidup. Jadi setidaknya, jika tidak bisa berbagi pendapat dengan mereka, jangan menyakiti hati mereka.

Orang-orang di A1 bagi saya juga termasuk pasangan, teman berbagi ide gagasan, menjaga loyalitas dan kebutuhan satu sama lainnya, sebagai bukti bahwa kita siap untuk memiliki pasangan. Selanjutnya ada anak-anak yang terlahir dari rahim, mereka juga menjadi skala prioritas dan perlu diperhatikan kebutuhannya, perasaannya, pendapatnya sebagai seorang anak.

Orang-orang yang berada di lingkaran A1 adalah orang-orang yang pantas untuk kita pertimbangkan pendapatnya, diskusi bersama mereka dan meminta banyak doa dari mereka. karena kontribusi mereka sangat besar dalam hidup kita.

A2
Orang-orang A2 sedikit lebih di bawah posisi A1. Di sini bisa jadi guru, sahabat setia, coach, orang-orang yang memiliki kontribusi dalam jenjang karier, perubahan karakter, pembimbing kejiwaan, spiritual dan sebagainya. Orang-orang ini masih menjadi orang yang perlu didengarkan pendapatnya meski tidak sepenuhnya harus diikuti, namun prioritas mereka karena memiliki kontribusi dalam hidup kita.

A3
Orang-orang di lingkaran A3 adalah orang yang sama sekali tidak punya kontribusi apapun dalam hidup kita. Namun jumlahnya sangat besar, biasanya jauh lebih cerewet dan sok tahu dibanding orang-orang yang berada di lingkaran A1 dan A2. Mereka seperti detektif, seakan-akan selalu mencari kesalahan kita, namun juga ada yang diam-diam mengagumi kita.

Orang-orang yang berada di lingkaran A3, bukanlah orang-orang yang harus didengarkan segala bentuk komentarnya, apalagi jika mereka hanya mengenali kita pada sebatas dunia sosial media. Jadi, jangan habiskan waktu untuk menerima cemoohan, kalimat sinis atau pujian yang berlebihan dari lingkaran A3. Cukup hanya untuk diketahui dan tidak perlu diambil hati. 

Daripada menghabiskan waktu untuk orang-orang yang tidak punya andil apapun dalam hidup kita, lebih baik kita fokus membahagiakan orang-orang yang berada di A1 dan A2, karena keberhasilan kita ada doa dari mereka, karena pendidikan karakter dari mereka telah menghantarkan kita hingga di gerbang kebanggaan bagi mereka.

Nah itu tadi, tips dari saya, semoga bisa memberikan pencerahan ya.


Wassalamualaikum Wr. Wb

Aida Maslamah Ahmad


Sabtu, 21 Maret 2020

MEREKA MERAGUKAN KEISLAMAN SAYA

Masjidil Haram, Februari 2020




TIGA KALI

Saya diragukan TIDAK bisa membaca Al Quran.
Satu kali dalam perjalanan bersama anak Gubernur Meknes di pusat peninggalan kerajaan Romawi kuno di Kota Meknes, Maroko. Saya dipaksa membaca ayat kursi. Ikram saat itu meragukan keislaman saya, selain orang Arab, menurutnya mungkin orang Asia seperti saya belum tentu bisa mengaji. 

Ya sudah.. Saya turuti saja. Saya bacakan beberapa surah, ia dan supirnya menatap saya lama. 
"Meziann...Thayyib Jiddan" katanya. 

Kemaren pun demikian. Saat di Masjid Nabawi saya shalat bersebelahan dengan jamaah dari Quwait, dia dan anak gadisnya menatap qur'an yang saya baca, karena ada terjemahannya, dia mengira itu bacaan qur'an dalam huruf latin.

 Saya jawab "Ini terjemahannya, bukan bahasa Al Quran yang dilatinkan. Alhamdulillah saya bisa membaca Al Quran". Saya baca dua ayat dari surah Al An'am.

Lalu dia menepuk berulang kali pundak saya. "Masyaa Allah. . Masyaa Allah" Katanya. 

Terakhir, saat di Masjidil Haram. Saya shalat bersebelahan dengan jamaah Tunisia. Di Tunisia mereka hanya berbicara Arab dan France, jarang yang bisa berbahasa Inggris. Lagi-lagi saya didaulat harus membaca Quran di depannya. Awalnya dia tampak ragu, tapi berakhir dengan tatapan takjub. 

"Masyaa Allah, bahkan pengucapanmu pun seperti orang Arab" ia tersenyum bahagia.

Saya hanya beruntung, sudah lancar mengaji sejak kanak-kanak (sudah praktik tajwid dengan benar) bahkan sampai nangis-nangis karena berulang kali dihukum karena lafalan kurang pas.

 "Ayoo baca yang benar, jangan kayak orang baru masuk Islam!"

Orang yang paling berjasa dalam hal ini, dialah ayah saya. Lelaki sederhana yang menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mengajarkan agama kepada banyak orang. Ayah juga guru Tajwid, Makharijul Huruf dan ia aktif berbahasa Arab.

Saat melihat ada saudara seagama yang sulit membaca Al Quran. Saya sedang berencana moga tahun ini Maslamah Foundation bisa membuka kelas baca Al Quran untuk orang-orang dewasa secara GRATIS.

Insya Allah.

Catatan Haramain
Masjidil Haram, 29 Februari 2020
Aida Maslamah Ahmad

Rabu, 18 Maret 2020

MEDINA, I'M IN LOVE (My Umrah Story #1)




Pernah enggak kita merasa bahwa benar-benar udah "dipanggil" ke rumah-NYA?
Dulu sekali saya tidak pernah berpikir akan dipanggil dengan cara seperti ini.
Hampir dua tahun saya memasang foto Ka'bah di semua wallpaper ponsel saya. Bahkan hampir Setahun saya memasangnya di cover sosial media milik saya.

Bisa dipastikan hampir setiap hari saya melihat gambar Ka'bah di ponsel, sebagai barang yang paling sering saya gunakan. Buat sebagian orang berada di Tanah Suci bukan perihal yang "wah" karena banyak teman-teman saya yang sudah memiliki segala macam harta benda, sudah keliling dunia kemana-mana, tapi tidak terpanggil untuk ke Baitullah.

Namun, ada banyak orang juga yang ingin ingin sekali ke Baitullah, namun biaya dan jalan menuju ke sana belum ada. Jadi, menurut saya, menuju tanah suci satu-satunya panggilan yang benar-benar panggilan dari pemilik rumah, Allah Azza Wa Jalla.

Tahun itu 2019, semua serba terbatas, beberapa project buku saya mandeg tanpa bayaran. Namun dalam hati kecil saya katakan, mari kita ikhlaskan, bagaimana sikap ikhlas akan bekerja dalam hidup kita.

2019 adalah sentilan pada prioritas hidup saya. Saat itu kami sedang berikhtiar untuk memiliki rumah, jika dipikirkan dengan logika, rasanya semua tidak mungkin. Kondisi seperti ini bukan hanya saya yang mengalaminya, tapi pernah dialami oleh orang-orang lain di luar dari pengalaman saya.

2019, saya digerakkan hati oleh-NYA. Bahwa jika saya mengutamakan ALLAH, maka segala urusan saya di dunia yang tertunda akan dijaminkan pula oleh ALLAH.

September 2019, saya mendaftarkan diri untuk haji, lalu akhir Oktober 2019, saya mendaftarkan diri untuk Umroh, sambil dalam hati saya katakan, "Ya ALLAH, hamba berserah pada-Mu, uang ini saya upayakan dan diikhtiarkan untuk memiliki rumah, namun hamba alihkan untuk ke rumah-Mu, mohon bantu hamba melewati ini semuanya"

Masya ALLAH, ALLAHU AKBAR. Akhir november 2019, ikhtiar saya memiliki rumah terjawab, dan tepat 1 Januari 2020, rumah itu kami tempati. memang Allah punya rencana atas semuanya.

2020 menjadikan saya semakin yakin, ada kekuatan ALLAH di atas kekuatan apapun. Terutama saat Allah memperjalankan saya menuju Baitullah di tengan-tengah isu Pandemi Covid 19 yang mulai melumpuhkan China.

Saya berangkat dengan segala kemudahan dari Allah.


*bersambung ke part 2

MENGAPA ANAK DIJADIKAN ALASAN?


anak-anak di Masjidil Haram
credit foto by Aida Ahmad

Seberapa sering langkah kita terhenti karena harus mengurus anak? Atau apakah kita menjadikan anak-anak yang kita lahirkan sebagai alasan atau penghalang untuk tetap beribadah dengan khusu'?

Beberapa kali waktu shalat di Masjidil Haram, saya sengaja memilih shalat diantara ibu-ibu yang membawa anak-anaknya. Saya amati mereka, saya perhatikan anak-anak mereka. Saya takjub bagaimana mereka membiarkan anak-anak mereka menyapa jamaah lainnya.



Masya Allah bayi-bayi, anak anak balita diajarkan agar cinta pada masjid, mereka berkenalan dengan jamaah yang lain, lalu sang ibu membaca Al-Quran, sambil menunggu waktu shalat selanjutnya, sang ayah membantu mengasuh balita. Saya menemukan kekompakan dalam hal mendidik yang Masya Allah (meski mungkin tidak semua keluarga melakukan hal yang sama)

Namun. Keluarga-keluarga yang saya temui di barisan Shaf Masjidil Haram adalah orangtua yang tak pernah menjadikan anak-anak mereka sebagai alasan untuk tidak ke masjid, untuk tidak belajar agama, bahkan mereka membawa anak-anak mereka ke masjid, shalat, tawaf, sai agar cinta pada ibadah.




Saya malu. Saya belajar itu dari mereka. Anak-anak yang tertib ketika shalat. Karena paham, ini saatnya menemui Allah, maka mereka diam sejenak mengikuti gerakan orangtuanya. Tidak ada anak-anak yang berteriak, kucar kacir, berlarian, bercanda. Mereka diam di tempatnya dan sebagian ikut belajar shalat. Ya Allahhh.. potret ini bikin iri.

Diam-diam saya berdoa...

"Ya Allah jadikanlah anak keturunan hamba menjadi golongan orang-orang shaleh, dan jadikanlah hamba orangtua yang mengajarkan anaknya lebih cinta pada agama-Mu daripada menyibukkan diri dengan segala pesona dunia"

Masjidil Haram
Sabtu, 29 Feb 2020
Aida Ahmad